Author

http://www.ayudadeblogger.com/
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Orang Berwudhu
Ibadah wudhu tampaknya sepele dan mudah untuk dilakukan. Karena itu, banyak umat Islam yang memandangnya biasa-biasa saja. Padahal, jika wudhu dilakukan tidak sempurna, shalatnya pun tidak akan diterima.

Padahal terlihat sederhana, Sejatinya manfaat wudhu untuk kesehatan sangat besar. Itulah yang dibuktikan oleh para ahli kesehatan dunia.

Salah satunya yaitu Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog yang berkebangsaan Austria. Ia menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan dalam wudhu karena mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Karena keselarasan air dengan wudhu dan titik-titik syaraf, kondisi tubuh yang senantiasa akan sehat.

Darisinilah ia pada akhirnya memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Baron Omar Roif Ehrenfels.

Ulama fikih menjelaskan hikmah wudhu sebagai bagian dari usaha untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudhu seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Karena itu, wajar jika daerah itu yang harus dibasuh.

Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers a Sport for the Body and Soul menjelaskan, wudhu dapat mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit.

Kemudian, jika dibersihkan dengan air (terutama ketika wudhu), bahan kimia itu akan larut. Selain itu, jelasnya, wudhu menyebabkan seseorang menjadi tampak lebih muda.

Berbagai penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa munculnya penyakit kulit disebabkan oleh rendahnya kebersihan kulit. Karena itu, orang yang memiliki aktivitas yang padat (terutama di luar ruangan) disarankan untuk sesering mungkin membasuh atau mencuci anggota badannya yang terbuka, seperti kepala, muka, telinga, hidung, tangan, dan kaki.

Sebab, penyakit kulit pada dasarnya sering menyerang permukaan kulit yang terbuka dan jarang untuk dibersihkan, seperti di sela-sela jari tangan, kaki, leher, belakang telinga, dan lainnya. Karena itu, Mochtar Salem memberikan saran agar anggota tubuh yang terbuka senantiasa untuk dibasuh atau dibersihkan dengan menggunakan air.

Rasul SAW menyatakan, wajah orang yang berwudhu itu akan senantiasa bercahaya. Rasulullah SAW akan mengenalinya nanti pada hari kiamat karena bekas wudhu.

“Umatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya karena bekas wudhu.”

Muhammad Kamil Abd Al-Shomad, yang mengutip sumber dan Al-I’jaz Al-Ilmiy fi Al-Islam wa Al-Sunnah AlNabawiyah, menjelaskan bahwa manfaat dari semua hal yang diperintahkan dalam wudhu sangatlah besar bagi tubuh manusia. Mulai dari membasuh tangan dan menyela-nyela jari, berkumur-kumur, memasukan air ke dalam lubang hidung, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap kepala, membasuh telinga, sampai membasuh kaki hingga mata kaki.

Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)dalam bukunya Lentera Hidup menuliskan mengenai keutamaan wudhu. “Sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari semalam setiap Muslim diperintahkan untuk berwudhu dan mengerjakan shalat. Walaupun wudhu belum lepas (batal), disunnahkan pula memperbaruinya.

Oleh ahli tasawuf, dijelaskan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka yang artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata, dan makan. Mencuci tangan dengan air dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang telanjur berbuat salah. Membasuh kaki dan lain-lain demikian pula. Mereka memperbuat hikmat-hikmat itu walaupun dalam hadits dan dalil tidak ditemukan.

Tujuannya yaitu agar manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementana batinnya masih tetap kotor. Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati telah berwudhu, maka wudhunya lima kali sehari semalam itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah SWT, dan shalatnya pun tidak akan mampu menjauhkan dirinya dan perbuatan fakhsya’ (keji) dan mungkar (dibenci).”

Mencegah penyakit jika kita mencermati dan mempelajari sejarah hidup Rasulullah SAW, seperti yang diungkapkan Muhammad Husein Haykal di dalam bukunya Hayatu Muhammad, sepanjang hidupnya Rasulullah SAW tidak pernah menderita penyakit.

Hal ini menunjukan bahwa wudhu dengan cara yang henar niscaya bisa mencegah berbagai macam penyakit.

Menurut sejumlah penelitian, berwudhu itu bisa menghilangkan berbagai macam penyakit. Contohnya, penyakit kanker, flu, pilek, asam urat, rematik, sakit kepala, telinga, pegal, linu, mata, sakit gigi, dan sebagainya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Salim mengenai manfaat wudhu untuk kesehatan, terungkap bahwa berwudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah seseorang dan segala penyakit.

Dalam penelitiannya itu, Muhammad Salim menganalisis masalah kesehatan hidung dari orang-orang yang tidak berwudhu dan yang berwudhu secara teratur selama lima kali dalam sehari untuk mendirikan shalat.

Salim mengambil zat dalam hidung pada selaput lendir dan mengamati beberapa jenis kumannya. Pekerjaan ini ia lakukan selama berbulan-bulan.

Berdasarkan dan analisisnya, lubang hidung orang orang yang tidak berwudhu memudar dan berminyak, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, serta permukaannya tampak lengket dan berwarna gelap. Adapun orang-orang yang teratur dalam berwudhu, ungkap Salim, permukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak berdebu.

“Sesungguhnya, cara berwudhu yang baik yaitu dimulai dengan membasuh tangan, berkumur-kumur, kemudian mengambil air dan menghirupnya kedalam hidung kemudian dikeluarkannya. Langkah ini sebaiknya dilakukan sebanyak tiga kali secara bergantian,” kata Salim.

Dari penelitiannya ini pula, Muhammad Salim berhasil meraih gelar master dari Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, Kairo, Mesir. Jauh sebelum adanya penelitian ini, Rasul SAW pernah bersabda:

“Sempurnakan wudhu, lakukan istinsyaq (memasukkan air ke hidung), kecuali jika kamu berpuasa.”

Setiap perintah Allah SWT tentu memiliki hikmah kebaikan dibaliknya. Bayangkan bahwa wudhu adalah ritual pengkondisian seluruh aspek hidup, mulai dari psikologis dan fisiologis.

Ahli syaraf atau neurologist pun sudah membuktikan dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki yang berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran.

Pada anggota badan yang terkena perlakuan wudhu terdapat ratusan titik akupunktur yang bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan atau urutan ketika melakukan wudhu.

Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi.

Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon yang bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Titik-titik akupunktur, suatu fenomena yang menarik jika dikorelasikan dengan kayfiyat wudhu yang disyari’atkan 15 abad yang lalu. Setelah dihitung-hitung, ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota wudhu.

Manfaat wudhu menurut ilmu kesehatan:

1. Manfaat Secara Umum

Kulit merupakan suatu organ yang terbesar bagi tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi (pembuangan zat-zat yang tidak berguna dengan melalui pori-pori) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan.

Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban.

Bersuci merupakan salah satu metode yang menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Jika kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman.

Dengan bersuci yang berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, pada selaput lendir, dan lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga).

Seperti kita ketahui kulit adalah tempat berkembangnya banyak kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogen es, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp.

Seorang ahli bedah diwajibkan untuk membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal pada abad ke-20, sebagaimana kita tahu Jepang membutuhkan 100 tahun untuk membiasakan cuci tangan, kampanye-kampanye cuci tangan sedang gencar-gencarnya di media massa, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak pada abad ke-l4 yang lalu.

2. Berniat dan Membasuh Kedua Telapak Tangan

Berniat yaitu rukun wudhu yang pertama. Manfaat niat di sini yaitu memantapkan hati agar semua rukun beserta sunnah-sunnah wudhu bisa dikerjakan secara maksimal dan manfaat dari berwudhu bisa kita rasakan secara keseluruhan.

Ujung kedua telapak tangan merupakan anggota tubuh yang jauh dari pusat peredaran darah yaitu jantung. Sebab itu, membasuh semua ujung-ujung anggota tubuh yang disebutkan tadi ketika berwudhu dan memijatnya dengan baik akan memperkuat peredaran darah sehingga bisa menambah aktivitas dan kebugaran tubuh.

3. Keutamaan Berkumur-kumur


Berkumur-kumur yang berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan yang sering mengendap atau tersangkutdi antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan (dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman.

Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari bisa mencegah dari infeksi gigi dan mulut. 
 
Selain menjaga dan membersihkan sia-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi sesudah makan berkumur bisa menjaga mulut dan tenggorokan agar terhindar dari radang dan bisa menjaga gusi dan luka.

Manfaat dalam berkumur lainnya yang penting sekali yaitu menguatkan sebagian oto-otot pada wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur adalah latihan yang penting yang diakui oleh para pakar dalam bidang olahraga, karena jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot pada wajah dengan baik bisa menjadikan jiwa seseorang menjadi tenang.

Demikian menurut Ahmad Salim Baduweilan dalam buku At-Tadawi bi Ash-Shalah. Berkumur ketika wudhu ditambah dengan menyikat gigi tentu bisa menghilangkan bau mulut yang tidak sedap dan mulut akan menjadi segar meskipun secara tidak tuntas. Karena sebenarnya tidak ada mulut yang tidak bau disebabkan mulut kita tidak pernah bebas dari jasad renik (microorganisme).

Selain itu membersihkan gigi dan gusi secara teratur bisa membantu mencegah pneumonia atau radang paru pada orang-orang yang lanjut usia serta pencegahan dini dari penyakit periodentitis.

Berkumur bisa membersihkan tenggorokan dari bakteri dan mikroba sebelum ia menyebar dan menimbulkan penyakit, serta mencegah 30% dari potensi terkena penyakit flu dan demam. 
 
Di satu sisi, berkumur adalah suatu tindakan dari perlindungan yang berperan untuk membantu memperbaiki kesehatan secara umum dan bisa menekan pengeluaran ekonomi.

Sebuah studi baru menegaskan bahwa bilasan ke mulut dengan air bisa melindungi mulut dari penyakit gusi dan peradangan, gigi yang berlubang, memperkuat otot otot mulut, wajah dan melindunginya dari infeksi saluran pernafasan.

Adapun ketika mencuci hidung dan menghirup air ke dalamnya mampu menyelamatkannya dari bakteri yang terdapat di dalamnya.

Bahkan orang-orang yang memelihara wudhu dengan baik, akan mampu melindungi hidungnya sehingga bebas dari bakteri. Dan ini akan melindungi hidung dari berbagai penyakit dan mencegah bakteri yang bergerak ke sistem pernafasan.

4. Istinsyaq

Istinsyaq yang berarti menghirup air dengan lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan kuman.

Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan. Dengan istinsyaq kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bisa dicegah.

Penelitian ilmu modern yang dilakukan oleh tim kedokteran Universitas Aleksandria membuktikan bahwa kebanyakan orang yang berwudhu secara kontinyu, maka hidung mereka bersih dan bebas dari debu, bakteri dan mikroba.

Tidak diragukan lagi bahwa lubang hidung adalah tempat yang rentan untuk dihinggapi oleh mikroba dan virus, tetapi dengan membasuh hidung secara kontinyu dengan melakukan istinsyaq, maka lubang hidung akan menjadi bersih dan terbebas dari radang dan bakteri, dan ini mencerminkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Proses ini bisa menjaga manusia akan bahaya pemindahan mikroba dari hidung ke anggota tubuh yang lain.

Hidung merupakan tempat yang banyak mengandung kotoran, karena setiap bernafas, semua kotoran yang terhirup disaring oleh hidung. Maka, dengan menghirup (istinsyaq) dan mengeluarkan air hidung (istinsar), semua kotoran dan kuman penyakit yang ada bisa dicegah masuk ke dalam tubuh serta dapat mempermudah proses pernafasan.

Selain itu, dengan sering melakukan istinsyaq dan istinsar, kita bisa terhindar dan flu, dan kalaupun terserang, pasti akan segera sembuh, karena kuman-kuman atau virus yang ada akan segera hilang dari lubang hidung.

Selain itu istinsyaq dapat untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara yang kotor dan kuman.

Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan yang pertama dalam pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bisa dicegah.

Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tidak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita.

Hasil penelitian yang dilakukan salah satu komite kongres antar negara-negara Islam di Kairo mengatakan bahwa membersihkan hidung sebanyak 5 kali dalam setiap wudhu bisa menjaga kenyamanan rongga-rongga itu dari penyakit infeksi peradangan, sehingga organ-organ tubuh dapat terlindungi dari serangan kuman yang bersarang di dalam rongga hidung.

5. Membasuh Wajah

Membasuh wajah memiliki manfaat yang sangat besar dalam menghilangkan debu dan mikroba, lebih dari membasuh hidung. 
 
Membasuh wajah bisa menghilangkan keringat dan permukaan kulit dan membersihkan kulit dari lemak yang dipartisi oleh kelenjar kulit, dan ini biasanya akan menjadi tempat yang ideal untuk berkembang biaknya bakteri.

Ketika membasuh wajah akan membuat wajah tampak segar dan penuh vitalitas dan melindunginya dari kuman dan debu.

Berbagai studi lainnya menegaskan bahwa mencuci muka bisa membersihkan mata dan debu dari kuman. Dan melindunginya dari berbagai infeksi.

Dengan mencuci wajah akan menghapus sisa-sisa keringat yang terdapat di permukaan kulit dan membuka pori-pori kulit sehingga bisa bernapas dengan baik.

Ditambah lagi bisa menghapus lemak dan minyak yang terdapat pada kulit wajah oleh adanya sekresi kulit. Dan ini tercermin secara positif pada kondisi tubuh yang sehat.

Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tidak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita.

6. Membasuh Tangan

Walaupun hanya sederhana, mencuci tangan sampai siku pada saat berwudhu sangat berguna bagi kesehatan diri yaitu menghilangkan kotoran pada tangan bisa memperlambat penyebaran demam, mengurangi kemungkinan pada tubuh yang terkena penyakit diare, serta penyakit infeksi lain.

Manfaat lain dari membasuh tangan sampai siku ketika berwudhu yaitu untuk menghilangkan keringat dari permukaan kulit dan membersihkan kulit dari lemak yang dipartisi oleh kelenjar kulit yang biasanya merupakan tempat yang ideal untuk berkembang biaknya bakteri.

7. Mengusap Sebagian Kepala
Manfaat untuk mengusap sebagian kepala pada saat berwudhu yaitu mampu mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi dan pusing kepala. 
 
Air dingin yang dibasuhkan ke wajah ataupun diusapkan ke kepala akan mempunyai pengaruh yang baik untuk aktivitas dan kebugaran seseorang, dan bisa menghilangkan penyakit kepala serta kelelahan otak (Ahmad bin Salim Beduweilan, 2005). 
 
Ketika membasu kepala, rambut akan menjadi lebih bersih dan terasa segar. Selain itu rambut akan menjadi rapi dan enak dipandang.

8. Mengusap Dua Telinga

Mengusap dua telinga saat berwudhu bisa menghilangkan lapisan yang timbul akibat bertumpuknya debu atau kotoran yang mungkin menutup telinga yang akan merusak telinga bagian dalam. 
 
Jika kotoran tersebut dibiarkan maka akan menyebabkan lemahnya pendengaran dan terganggunya keseimbangan pada tubuh, karena pusat keseimbangan tubuh terdapat di telinga bagian dalam (Ahmad bin Salim Beduweilan, 2005).

9. Membasuh Kedua Telapak Kaki

Para Dokter mengatakan bahwa mencuci kaki dengan cara diusap dengan baik akan melindungi kulit dari infeksi dari kotoran kaki dan berbagai penyakit kulit yang tendapat di tempat itu.

Membasuh kedua telapak dengan memijatnya secara baik dapat membuat perasaan tenang dan nyaman. Telapak kaki merupakan cerminan kebersihan seluruh perangkat tubuh. Orang yang membasuh kaki sampai telapak kaki dengan air ini merupakan rahasia munculnya perasaan tenang dan nyaman dalam hati setiap muslim stelah berwudhu. 
 
Baca juga:
Wudhu dan Titik Biologis

Itulah sedikit informasi yang bisa saya berikan tentang manfaat wudhu untuk kesehatan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Wudhu merupakan suatu bentuk ritual yang mengawali ibadah sholat yang akan dilakukan oleh para kaum muslim di seluruh dunia. Wudhu sendiri merupakan salah satu cara menyucikan diri, yang terdapat dalam kitab suci Al-quran. Wudhu dilakukan oleh kaum Muslim dengan menggunakan air suci sebagai media melakukannya. Wudhu sendiri bukan hanya sebagai sarana menyucikan diri namun memiliki manfaat yang lebih luas. Manfaat yang diperoleh tidak hanya dilihat dari segi unsur spiritualitas dan unsur keagamaan saja, namun juga manfaat yang diperoleh secara universal dari ritual wudhu itu sendiri.  
 
Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers: a Sport for the Body and Soul (Olahraga untuk jasmani dan Rohani) menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengenyahkan risiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudhu lima kali sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.

Menurut Salem, membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit, wudhu juga meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh. Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat membawa contoh benda asing yang masuk kepada dua senjata pamungkas yang sudah dimiliki, manusia secara alami, yaitu limfosit T (sel T) dan limfosit B (sel B).

Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening dan mampu menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudhu meningkatkan daya kerja mereka. Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam wudhu disunatkan menghirup air dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut. Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), TBC, dan kanker secara dini. (www.bisnis-syariah.com)
Kalau diperhatikan, anggota badan yang dibasuh ketika berWudhu adalah anggota-anggota badan yang sering terbuka. Anggota badan kita yang terbuka sangat rentan didatangi kuman, selain memang kulit kita dihuni oleh kumankuman yang normal keberadaannya, kuman-kuman yang bersifat simbiotik

mutualisme (keberadaannya membantu kulit misalnya dalam sistem pertahannan tubuh) juga kuman-kuman simbiotik komensalisme (keberadaanya tidak menimbulkan kerugian/penyakit) juga yang patogen potensial (opportunistic) (kuman yang akan menimbulkan penyakit), kuman-kuman ini yang dikenal dengan flora normal kulit.

Menurut ilmu bacteria (mikrobakteriology), 1 cm meter persegi dari kulit kita yang terbuka bisa dihinggapi lebih 5 juta bakteri yang bermacam-macam. Bakteri ini perkembangannya sangat cepat dan salah satu faktor yang paling mempengaruhi perkembangannya adalah keseimbangan asam-basa (pH). PH permukaan kulit sangat berperan dalam memproteksi tubuh dan membatasi perkembangan kuman yang akan menimbulkan penyakit.

Ketika membasuh kulit dengan air, maka keseimbangan pH dan kelembaban itu akan terkoreksi kembali dan diharapkan kembali normal. Kulit kita terdiri atas beberapa lapisan, salah satunya adalah epidermis pada lapisan terluar (yang mengadakan kontak langsung dengan lingkungan luar). Pada lapisan ini terdapat lapisan sel tanduk (stratum corneum) yang selalu mengalami deskuamasi (penggantian dan pembuangan sel-sel kulit mati pada stratum korneum) dan kadang sel-sel kulit yang mati dan mengelupas itu akan menyumbat pori-pori yang juga bermuara pada lapisan epidermis, hal inilah yg dapat menimbulkan

penyakit pada kulit. Ketika berWudhu, maka air akan membantu membuang kotoran-kotoran, sisa-sisa sel kulit mati tadi dan meminimalisir jumlah kuman pada permukaan kulit kita.

Menurut para ahli pada lembaga riset trombosis di London (Inggris), jika seseorang selalu mandi atau membasuh anggota tubuhnya, maka akan memperbaiki dan melancarkan sistem peredaran darah, air yang mengandung elektrolit-elektrolit akan membuat pembuluh-pembuluh darah mengalami vasodilatasi (pelebaran) sehinggga memperlancar peredarannya.

Juga yang lebih penting adalah efek air pada tubuh kita, yaitu meningkatkan produksi sel-sel darah putih (leukosit) yang sangat berperan penting dalam system pertahanan tubuh (immunitas). Bahkan dari bunyi gemericik air dan kesejukannya, saraf-saraf tubuh yang mengalami ketegangan akibat aktifitas sebelumnya akan mengalami relaksasi juga mengembalikan kemampuan kerja otot-otot tubuh kita.

Ketika berwudhu, kita juga dianjurkan berkumur, bersiwak (gosok gigi), membersihkan hidung, dan membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki. Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan kepada umatnya :"Alangkah baiknya orang-orang yang mau menyela-nyela? Mereka bertanya: Siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab : Mereka adalah yang mau menyela-nyela dalam wudhu dan dari makanan, dalam wudhu adalah dengan berkumur, menghisap air hidung dan menyela-nyela jari-jemari mereka pada saat berwudhu, sedangkan menyela-nyela gigi adalah membersihkannya dari bekas makanan. Sesungguhnya yang paling menjengkelkan kedua malaikat (pencatat) adalah ketika mereka melihat bekas makanan di sela-sela gigi mereka sedangkan mereka mendirikan Shalat" (H.R. Ahmad dari Abu Ayub).

Kalau kita tahu, mulut dan hidung kita ini merupakan sarang bakteri berbahaya. Bila kita tidak rajin membersihkannya bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.

Bakteri-bakteri tersebut semakin subur oleh bekas-bekas makanan yang ada di sela-sela gigi yang tidak kita bersihkan. Penelitian pernah membuktikan bahwa 90% dari mereka yang menderita kerusakan gigi, adalah karena keteledoran dalam melakukan kebersihan mulut. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang ada di mulut kita tidak hanya mengancam gigi dan gusi, tetapi juga mengancam sistem pencernaan kita, ini karena air liur yang kita telan berasal dari mulut.

Ada beberapa penyakit yang dapat disebabkan kurang diperhatikannya kesehatan gigi dan mulut dan efeknya adalah timbul penyakit pada organ lain, misalnya sinusitis causa kerusakan gigi (geraham atas). Akhirnya, marilah kita senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan badan kita dengan rajin berwudhu dengan air yang suci dan bersih, dan dengan tata cara yang benar. (Dewan Asatidz dalam www.pesantrenvirtual.com)
Air Merupakan Rahasia Kehidupan

Dalam kitab Asrar al ibadat wa Haqiqah ash Shalah, hal 16 ; Seorang ahlli makrifat berkata, " Bersuci, bisa menggunakan air yang merupakan rahasia kehidupan, yang merupakan pangkal ilmu untuk menyaksikan Tuhan Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri.  

Allah berfirman : dan kami turunkan dari langit air yang sangat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu."(Al Furqan : 48 - 49).
 
Dan Allah Azza wa Jalla berfirman : dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan setan". (Al Anfaal : 11)

Bisa juga menggunakan tanah yang merupakan asal kejadian manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman : "Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kalian" (Thaha : 55),

"Lalu, jika kalian tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang bersih
" (An Nisa : 43)

Agar engkau merenung tentang dirimu dan engkau tahu siapa yang menciptkanmu, dari apa Dia menciptakanmu, dan mengapa Dia menciptakanmu. Dengan demikian, engkau bisa menghilangkan kesombongan dari kepalamu, karena tanah merupakan asal bagi kehinaan dan kerendahan. ( Shalat Ahli Makrifat hal. 126-127)

Sambutlah Air Laksana Menyambut Rahmat Allah SWT.


Imam Ash Shadiq a.s. berkata, "Jika engkau hendak bersuci dan berWudhu, sambutlah air seperti engkau menyambut rahmat Allah". Sungguh Allah SWT telah menjadikan air sebagai kunci bagi kedekatan diri dan munajat kepada Nya serta penunjuk ke dalam pengkhidmatan kepada Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman : "Dan kami jadikan dari air setiap sesuatu yang hidup" (Al Anbiyaa' : 30).

Sebagaimana Dia menghidupkan setiap sesuatu nikmat dunia, demikian pula dengan karunia dan rahmatNya Dia menjadikan kehidupan hati dengan ketaatan.

Renungkanlah kejernihan, kelembutan, kebersihan, dan keberkahan air serta kelembutan percampurannya dengan setiap sesuatu dan didalam setiap sesuatu, pergunakanlah dalam menyucikan anggota-anggota tubuh yang diperintahkan oleh Allah untuk kau sucikan, penuhilah dengan adab-adabnya, baik yang fardhu maupun yang sunnah, karena didalam setiap adab itu terdapat faedah yang banyak. Jika engkau menggunakannya dengan penghormatan, maka mata air faedah-faedahnya akan terpancar bagimu dari dekat.

Kemudian bergaullah dengan makhluk Allah Ta'ala seperti percampuran air dengan segala sesuatu, seraya memberikan hak segala sesuatu, jangan berubah dari maknanya, dengan meyakini sabda Rosululloh SAW : "Perumpamaan orang Mukmin yang khusus adalah seperti air". Jadikanlah kejernihanmu bersama Allah di dalam semua ketaatanmu seperti kejernihan air ketika diturunkan dari langit, dan dinamai "yang bersih (thohuran)". Sucikanlah hatimu dengan takwa dan yakin saat menyucikan anggota-anggota tubuhmu dengan air. ( Shalat Ahli Makrifat hal. 131).

Sebuah penemuan terbaru tentang rahasia air oleh Masaru Emoto, membuktikan bahwa air memiliki "kesadaran". Ia mampu merespon kata-kata bahkan pikiran kita, baik positif maupun negatif. Ini membuktikan bahwa adanya keterkaitan yang begitu erat antara alam dan jiwa kita.


Manusia itu sendiri sebenarnya air. Pada konsep terbentukmya manusia, telur yang dibuahi 96 % nya adalah air. Setelah lahir 80 % tubuh seorang bayi adalah air. Semakin tubuh manusia berkembang, prosentase air berkurang dan menetap sampai batas 70 % ketika manusia mencapai usia dewasa. Dengan kata lain, selama ini kita hidup sebagai air. Jadi sebenarnya manusia adalah air. ( True Power of Water hal. 17 )

Sadarilah bahwa air yang begitu agung rahasianya diciptakan Allah Azza wa Jalla sebagai wasilah melalui perenungan, "menghidupkan" kejernihan, kelembutan, kesucian, keberkahan dan kelembutan percampurannya.
Muharam adalah bulan duka bagi muslim syiah karena dihari kesepuluh di bulan muharam ini juga akan bertepatan dengan peringatan Asyura. Asyura adalah hari pada saat Imam Hussain cucu dari nabi Muhammad SAW  mengorbankan hidupnya dan kerabatnya untuk Ajaran islam dari pengrusakan pada tahun 61 hijriah dalam pertempuran karbala di irak. 

 Ada beberapa faktor yang mendasari pengikut mazhab Ahlulbait memperingati hari syahadah Imam Husain as atau Asyura di antaranya sebagai berikut:

a. Adanya teks-teks hadis secara umum tentang keharusan kita mencintai Imam Husain sebagai salah seorang dari pribadi-pribadi keluarga Nabi yang disucikan. Dan salah satu bentuk mengekspresikan kecintaan itu dengan memperingati hari lahir dan wafat beliau. 

b. Adanya contoh dari para Imam suci Ahlulbait as atas hal itu, bahkan diriwayatkan berbagai hadis yang menyebutkan tentang keutamaan memperingati hari Asyura dengan berbagai ritual khusus, seperti membaca doa ziarah Asyura, saling mengucapkan ucapan bela sungkawa sesama mukmin dan bahkan adanya riwayat yang melarang kita untuk melakukan aktivitas ekonomi (mata pencaharian) di hari itu, karena hari itu adalah hari yang tidak akan membawa berkah.

c. Momentum yang tepat untuk menghidupkan sebuah fakta dalam sejarah yang pernah ditulis dengan tinta merah yang dengan terus memperingatinya, kita akan tetap mengingat dan tidak melupakannya. Selanjutnya akan kita jadikan sebagai sebuah baliho besar di depan mata kepala dan hati kita, agar dapat kita petik berbagai hikmah dan pelajaran yang sangat berguna sebagai bekal kita mengarungi dan menjalani kehidupan keseharian kita.

d. Kita memiliki tugas untuk melestarikan ajaran agama dan memberikannya sebagai tongkat estafet yang harus tetap dipegang oleh generasi berikutnya. Tanpa peringatan-peringatan seperti itu, maka nama, sejarah dan sepak terjang Imam Husain as akan hilang dan tidak akan dikenal oleh anak dan cucu kita. 

Coba bayangkan jika maulid Nabi kita Muhammad saw tidak pernah diperingati, maka pasti kita tidak akan tahu kapan Nabi dilahirkan, bagaimana sepak terjang beliau dan apa pesan dan ajaran sucinya. Anak-anak kita tidak akan tahu hal itu, walapun ditulis dalam buku-buku sejarah. Sama halnya dengan hari kelahiran para tokoh dan pahlawan; sebut saja Imam Bonjol, Diponegoro, Pattimura dan lain-lain, walaupun ditulis di dalam buku-buku sejarah dan dipelajari di sekolah-sekolah, namun karena tidak diperingati, maka tidak melekat di pikiran kita kapan beliau-beliau lahir, apalagi ajaran dan pesan-pesan berharganya. 

Ada Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memperingati Asyura

1.     Perjalanan imam Husain as dan sahabat-sahabatnya dari Madinah ke Karbala dan saat-saat menjelang kesyahidan serta perjalanan bersejarah kafilah Ahlul Bait yang tersisa dari Karbala, ke Kufah yang dari situ menuju Syam dan pada akhirnya kembali ke Madinah membawa pesan-pesan yang hingga masa ini pesan-pesan tersebut masih berlaku. Generasi muda saat ini butuh dengan kesemua pesan-pesan bersejarah tersebut dan melalui peringatan Asyura lewat khutbah-khutbah, bacaan-bacaan syair dan sajak harus memuat pesan-pesan itu.

2.     Pihak musuh yang ta'ashub, sombong dan enggan untuk berpikir jernih menjadikan peringatan Asyura yang diadakan oleh para pecinta Ahlul Bait di seluruh dunia sebagai alasan bagi mereka untuk menebar kebencian dan menyulut perselisihan. Kita harus tetap mempertahankan hidupnya tradisi yang mulia ini. Mengerahkan segenap daya upaya agar peringatan Asyura menjadi lebih baik dan lebih meluas dari tahun ke tahun.

3.     Menghindari sebisa mungkin segala bentuk aktivitas yang muncul dari pikiran khurafat dan segala bentuk penghinaan terhadap symbol-simbol yang diagungkan kelompok Islam lain. Bahwa melukai dan menciderai diri sendiri dalam peringatan Asyura adalah terlarang dan tidak ada dasarnya dalam Islam. Melukai diri dengan cambuk, pedang dan lain sebagainya hanya akan dimanfaatkan musuh-musuh Islam untuk menghina dan menjelek-jelekkan Islam.

4.     Mengurangi sebisa mungkin pengeluaran yang terkesan berlebihan dalam penyelenggaraan acara peringatan Asyura termasuk dalam urusan penyebaran da'i dan muballigh ke berbagai tempat. Perlu kembali saya tekankan bahwa dana urusan keagamaan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada Negara yang dengan itu bisa menimbulkan masalah keuangan Negara melainkan juga termasuk bagian dari tanggungjawab masyarakat sendiri. Karenanya dalam penyelenggaraan peringatan Asyura nanti peran masyarakat sangat dibutuhkan termasuk dalam memberikan sumbangsih dana penyelenggaraan.

5.     Para pecinta imam Husain as yang mulia, perlu diingat bahwa tradisi memperingati kebangkiran Asyura ini harus tetap dipertahankan dan dijaga oleh karenanya sangat ditekankan untuk melibatkan pemuda dan anak-anak dalam acara ini. Dukung dan dorong mereka untuk terlibat secara langsung dan jelaskan kepada mereka arti penting kebangkitan Asyura tersebut dan pentingnya untuk terus menjaga semangat Asyura.

6.     Semua agenda dalam penyelenggaraan peringatan Asyura harus dimaksudkan untuk menjaga Islam dan keutuhan Negara Islam. Kewaspadaan harus ditingkatkan berkenaan dengan upaya musuh-musuh Islam memanfaatkan momen-momen ini untuk menimbulkan perselisihan dan perpecahan termasuk dalam masalah politik.

7.     Perlu diingat bahwa diantara alasan kebangkitan Imam Husain as di hari Asyura adalah untuk menjaga Islam dan agar shalat tetap diamalkan. Para pecinta al Husain harus tetap memberikan perhatian sepenuhnya terhadap waktu-waktu shalat. Jika waktu shalat sudah masuk kegiatan apapun selain shalat harus dihentikan dan dilanjutkan setelah shalat. Sebab shalat adalah tiang utama agama ini.

8.     Jagalah keamanan dan keteraturan dalam penyelanggaraan nanti, hindarkan saling menghina kehormatan yang lain, jangan boros dan bertindak mubazir termasuk dalam pengelolaan makanan, utamakan orang-orang yang sangat membutuhkan untuk mudah mendapatkannya, kebersihan masjid, husainiyah, dan jalan-jalan harus tetap dijaga, semoga peringatan Asyura tahun ini memberikan efek yang positif terhadap kebangkitan umat. Kita berharap semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan kebaikan kepada kita semua, menghilangkan masalah-masalah kaum muslimin, meninggikan martabat kaum muslimin dan melenyapkan niat-niat jahat musuh-musuh Islam.
Melatih Anak Berpuasa merupakan Pendidikan anak sejak dini salah satu central issue yang yang mendapat perhatian besar dalam Islam. Pendidikan adalah satu-satunya pintu membentuk generasi bangsa yang memiliki karakter salimul aqidah (aqidah yang bersih), shahihul i'badah (ibadah yang benar), matinul khuluq (akhlak yang kokoh), mutsaqaful fikri (wawasan berfikir yang luas), qawiyul jismi (jasmani yang sehat dan kuat) dan nafi'un lighairihi (bermanfaat bagi orang lain). Meminjam pernyataan M. Natsir (Kapita Selekta) yang mengatakan, "Maju Mundurnya sebuah bangsa sangat tergantung dari pendidikan yang diselenggarakan bangsa itu".

Al-Qur'an, dalam banyak ayat, memerintahkan para orangtua untuk sejak dini mendidik anak-anaknya: "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata pada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar". (Luqman: 13)

Bulan Ramadhan merupakan bulan spesial bagi umat Islam di dunia, dimana pada bulan tersebut semua umat Islam menjalankan ibadah berpuasa. Sebagai orang tua kita perlu mendidik dan melatih anak berpuasa sejak dini, tanamkan kesadaran berpuasa dan ajarkan secara bertahap dan menyenangkan. Dengan mengajarkan puasa sejak dini anak akan lebih mudah terbiasa dalam menjalani ibadah puasa tanpa merasakan puasa sebagai beban melainkan ibadah yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan spiritual.

Pada masa kini, tumbuh suatu anggapan bahwa tindakan para orang tua kaum muslimin memerintahkan anak berpuasa merupakan tindakan kekerasan orang tua pada anak. Suatu anggapan yang tidak memiliki dasar pengetahuan apa pun. Karena, pertama: melatih anak berpuasa tidak sama dengan mewajibkan mereka berpuasa. Rasulullah saw. menegaskan: "Tidak ada kewajiban syar'i bagi anak-anak yang belum baligh". Kedua, dalam melatih anak berpuasa, harus mempertimbangkan kondisi dan kemampuan anak. Al-Qur'an menegaskan: "Allah swt. tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya" (Al-Baqarah: 286).

Dua prinsip di atas sangat gamblang mengimplikasikan bahwa tidak boleh ada unsur paksaan dan kekerasan dalam mendidik anak. Akan tetapi justru sebaliknya, harus memperhatikan kondisi dan kemampuan anak serta mengupayakan cara-cara memotivasi dan membuat mereka gembira saat mereka latihan berpuasa.

Melatih anak di usia dini lebih baik karena anak siap belajar apa saja dan mempercayai apa yang dikatakan orangtuanya/gurunya.

Melatih anak puasa bukan untuk berbangga-bangga tapi untuk pembiasaan dan juga pondasi ibadah di masa yang akan datang sehingga ketika tiba masa baligh, anak-anak sudah mantap dan mapan ibadahnya.

Insya Allah anak akan siap untuk menghadapi tugas kehidupan yang lebih berat di masa dewasanya.
Memang, tak ada acuan di usia berapa anak sanggup berpuasa karena kondisi tubuh setiap anak berbeda. Bagaimana mengetahui kemampuan berpuasa pada anak? Sebetulnya mudah saja; anak yang sudah merasa lemas pasti akan mengeluh lapar. Jangan tunda sampai lemasnya memunculkan keringat dingin, apalagi muntahmuntah. Boleh jadi itu salah satu pertanda kadar gula darahnya menurun atau anak mengalami dehidrasi karena umumnya anakanak tetap aktif bermain dan mengeluarkan banyak keringat. Segera batalkan puasanya. Jangan lupa untuk tetap memuji usahanya.

Namun, jangan biarkan anak balas dendam terhadap rasa laparnya dengan makan dalam porsi besar sekaligus. Tentu tindakan “balas dendam” bisa membuat sistem pencernaannya kaget dan bereaksi menimbulkan sakit. Berikan minuman pembuka yang dapat memulihkan energinya disertai makanan ringan. Setelah itu, barulah makan makanan utama dengan porsi tidak berlebihan. Ketimbang mengatakan, “Puasa berarti tidak makan sehari penuh,” lebih baik katakan, “Puasa hanyalah mempercepat waktu makan pagi dan menunda makan siang.” Dengan demikian, anak tidak akan merasa berat melakukannya. Selanjutnya latih kekuatan berpuasa anak secara bertahap.

Di awal latihan, anak balita yang sarapan sekitar pukul 07.00 dapat berpuasa hingga pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Setelah makan, puasa dilanjutkan kembali hingga siang lalu dibuka untuk yang kedua kali (pada pukul 15.00, misalnya), lantas dilanjutkan lagi hingga magrib. Di tahun berikutnya, puasa dapat dilakukan hingga pukul 12.00 WIB, dan seterusnya sesuai kemampuan anak.

Untuk anak usia sekolah yang relatif lebih kuat, perhatikan jam biologisnya. Biasanya hingga pukul 12.00, anak masih bisa bertahan namun setelah lewat tengah hari, katakanlah pukul 14.00, perutnya mulai keroncongan. Jika memang sudah tidak kuat, tawari anak untuk berbuka. Sebaliknya, kalau masih terlihat segar, ajak ia berkegiatan agar dapat mengabaikan rasa lapar dan hausnya seperti dengan membacakan cerita, menonton film favorit, dan lainnya.

Perlu juga dipahami, di awal-awal puasa (1-3 hari pertama) adalah masa penyesuaian tubuh terhadap “kosongnya” perut. Jangan khawatir kalau anak mengurangi aktivitasnya dan lebih banyak tidur karena merasa tak bersemangat. Siasati dengan mengajaknya melakukan aktivitas yang tidak menguras energi tapi mampu membuatnya merasa asyik. Kalau anak mesti sekolah di pagi hari, ajaklah ia tidur lebih awal sehingga tubuhnya tetap bugar meski harus bangun sahur. Siang hari, ingatkan anak untuk tidur dengan porsi biasa saja, karena kebanyakan tidur justru dapat membuatnya makin lemas dan tidak bersemangat.

Setelah sahur, jangan biarkan anak beraktivitas berlebihan (jalan-jalan pagi dalam jarak jauh atau berolahraga yang menguras tenaga) karena dengan begitu ia akan cepat kehabisan energi dan akhirnya lemas dan haus. Lebih baik, ajak ia kembali tidur atau mengisinya dengan kegiatan yang tidak terlalu menghabiskan tenaga. Bermain aktif dapat dilakukan menjelang magrib dan umumnya tidak lebih dari 1 jam.

Demikian beberapa tips dan trik sehat mengajar anak berpuasa. Semoga Allah merahmati kita semua dengan anugrah anak-anak dan generasi yang saleh. amin..
Ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?

Tentu jika membahas masalah Al Kafi membuat sebagian kalangan marah karena banyak riwayat-riwayat yang terdapat di dalamnya yang bertentangan dengan pemikiran Ahlusunnah. Namun saya sdikit memberikan gambaran tentang Al Kafi agar tidak terjadi perselisihan di tengah masyarakat Muslim yang di inginkan oleh musuh Islam. Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih.  Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

Kedudukan Al Kafi

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah (yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Catatan

Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al-Kafi maka sepatutnya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al-Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah (Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut. 

Politik Adu Domba Zionis

Sebenarnya perbedaan pemahaman dalam masalah hadis diatas merupakan hal yang sepele yang tidak menimbulkan perpecahan umat, namun selalu dalam hal ini oleh musuh-musuh islam di gunakan sebagai politik adu domba di tengah masyarakat Islam. Menurut Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, perbedaan antara Sunni-Syiah yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil.

Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furuiyyah yang dapat ditoleransi.  Dalam konteks masa kini, ar-Rafa’i meyakini, faktor lain yang amat kuat memengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperalis Barat.

Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim, digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Sumber :
Tradisi Syiah 

Kajian tentang Syi'ah di Indonesia, telah dilakukan oleh sejumlah ahli dan pengamat sejarah, sebagian besar diantaranya berkesimpulan bahwa orang-orang Persia -yang pernah tinggal di Gujarat- yang berpaham Syiahlah yang pertama kali menyebarkan Islam di Indonesia.

Bahkan dikatakan Syi'ah pernah menjadi kekuatan politik yang tangguh di nusantara. M Yunus Jamil dalam bukunya Tawarikh Raja-raja Kerajaan Aceh (1968) menulis kerajaan Islam yang pertama berdiri di Nusantara adalah Kerajaan Peureulak (Perlak) yang  didirikan pada 225H/845M. Pendiri kerajaan ini adalah para pelaut-pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat dan mengangkat seorang Sayyid Maulana 'Abd al-Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang menganut paham politik Syi'ah, sebagai sultan Perlak. 

Agus Sunyoto, staf Lembaga Penerangan dan Laboratorium Islam (LPII) Surabaya yang dipimpin Dr Saleh Jufri, seperti dilaporkan Majalah Prospek (10 Nopember 1991), melalui penelitiannya menyimpulkan, bahwa Syaikh 'Abd al-Ra'uf Al-Sinkli, salah seorang ulama besar nusantara asal Aceh pada abad ke-17, adalah pengikut dan penggubah sastra Syi'ah. Ia pun setelah melakukan penelitian terhadap kuburan-kuburan di Jawa Timur, berkesimpulan bahwa dari segi fisik dan arsitekturnya itu adalah kuburan-kuburan orang Syi'ah.

Bahkan Agus Sunyoto lewat bukti-bukti sejarah, berspekulasi, sebagian besar dari Walisongo  adalah ulama Syi'ah. Dengan tegas ia menulis, Syekh Maulana Malik Ibrahim, guru dari semua sunan wali songo adalah Syiah

Mazhab Syafi'i

Dalam masyarakat NU, pengaruh Syi'ah pun cukup kuat di dalammya, Dr Said Agil Siraj, Wakil Katib Syuriah PBNU secara terang mengatakan, "Harus diakui, pengaruh Syi'ah di NU sangat besar dan mendalam. Kebiasaan membaca Barzanji atau Diba'i yang menjadi ciri khas masyarakat NU misalnya, jelas berasal dari tradisi Syi'ah". 

KH Abdurrahman Wahid bahkan pernah mengatakan bahwa Nahdatul Ulama secara kultural adalah Syi'ah. Ada beberapa shalawat khas Syi'ah yang sampai sekarang masih dijalankan di pesantren-pesantren.  Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan. Itu semua tradisi Syi'ah. Tradisi itu lahir di Indonesia dalam bentuk mazhab Syafi'i padahal sangat berbeda dengan mazhab Syafi'i yang dijalankan di negara-negara lain. 

Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyebut bahwa salah satu pengaruh tradisi Syiah dalam corak keislaman di Indonesia adalah praktik nyanyian (biasa disebut juga pujian) menjelang salat yang biasa dipraktikkan di kalangan warga nahdliyyin (NU). Nyanyian itu berisi pujian untuk “ahl al-bait” atau  keluarga Nabi, istilah yang sangat populer di kalangan Syiah. 

Bunyi nyanyian itu ialah: Li khamsatun uthfi biha, harra al-waba’ al-hathimah, al-Mushthafa wa al-Murtadla, wa ibnahuma wa al-Fathimah. Terjemahannya: Aku memiliki lima “jimat” untuk memadamkan epidemi yang mengancam; mereka adalah al-Musthafa (yakni Nabi Muhammad), al-Murtadla (yakni Ali ibn Abi Talib, menantu dan sepupu Nabi), kedua putra Ali (yakni Hasan dan Husein), dan Fatimah (isteri Ali). Gus Dur menyebut gejala ini sebagai “Syiah kultural” atau pengaruh Syiah dari segi budaya, bukan dari segi akidah. 

Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah ritus teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia. Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam bukunya, Kafilah Budaya meruntut berbagai fakta tentang adanya pengaruh-pengaruh tradisi Syiah dan Iran di tanah air terutama bagi masyarakat Minangkabau yang masih terjaga sampai kini.

Perguruan Tinggi pertama di Aceh bernama Universitas Syiah Kuala, menunjukkan fakta lainnya. Universitas yang disingkat Unsyiah yang diresmikan berdirinya oleh Presiden Soekarno tahun 1959 menunjukkan bahwa idiom Syiah telah sangat dikenal masyarakat. 

Karena kuatnya unsur-unsur Syiah dalam corak keislaman di Indonesia inilah, hubungan antara Sunni dan Syiah, sejak dahulu, berlangsung dengan cukup bersahabat. Pada saat Gus Dur memimpin ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU), sejak 1984-1999, hubungan antara kalangan NU dan Syiah juga cukup bersahabat.

Namun yang patut di sesalkan adalah adanya sebagian besar kalangan salafi di Indonesia yang menampakkan antipati yang mendalam terhadap kelompok Syiah. Kelompok ini yang sangat dipengaruhi oleh doktrin Wahabisme dan sekarang juga tumbuh menjamur di beberapa kota, terutama di Jakarta. Bagi mereka, Syiah dianggap sebagai kelompok yang sudah keluar dari Islam. Dan terus menyebarkan fitnah di tengah masyarakat awam dan menciptakan perselisihan antara umat islam.

Sumber : 

Blogger Template -

Copyright 2017 Ayudadeblogger.com All Rights Reserved.