Author

http://www.ayudadeblogger.com/
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Keislaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Keislaman. Tampilkan semua postingan
Orang Berwudhu
Ibadah wudhu tampaknya sepele dan mudah untuk dilakukan. Karena itu, banyak umat Islam yang memandangnya biasa-biasa saja. Padahal, jika wudhu dilakukan tidak sempurna, shalatnya pun tidak akan diterima.

Padahal terlihat sederhana, Sejatinya manfaat wudhu untuk kesehatan sangat besar. Itulah yang dibuktikan oleh para ahli kesehatan dunia.

Salah satunya yaitu Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog yang berkebangsaan Austria. Ia menemukan sesuatu yang sangat menakjubkan dalam wudhu karena mampu merangsang pusat syaraf dalam tubuh manusia. Karena keselarasan air dengan wudhu dan titik-titik syaraf, kondisi tubuh yang senantiasa akan sehat.

Darisinilah ia pada akhirnya memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Baron Omar Roif Ehrenfels.

Ulama fikih menjelaskan hikmah wudhu sebagai bagian dari usaha untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudhu seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Karena itu, wajar jika daerah itu yang harus dibasuh.

Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers a Sport for the Body and Soul menjelaskan, wudhu dapat mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit.

Kemudian, jika dibersihkan dengan air (terutama ketika wudhu), bahan kimia itu akan larut. Selain itu, jelasnya, wudhu menyebabkan seseorang menjadi tampak lebih muda.

Berbagai penelitian ilmiah sudah membuktikan bahwa munculnya penyakit kulit disebabkan oleh rendahnya kebersihan kulit. Karena itu, orang yang memiliki aktivitas yang padat (terutama di luar ruangan) disarankan untuk sesering mungkin membasuh atau mencuci anggota badannya yang terbuka, seperti kepala, muka, telinga, hidung, tangan, dan kaki.

Sebab, penyakit kulit pada dasarnya sering menyerang permukaan kulit yang terbuka dan jarang untuk dibersihkan, seperti di sela-sela jari tangan, kaki, leher, belakang telinga, dan lainnya. Karena itu, Mochtar Salem memberikan saran agar anggota tubuh yang terbuka senantiasa untuk dibasuh atau dibersihkan dengan menggunakan air.

Rasul SAW menyatakan, wajah orang yang berwudhu itu akan senantiasa bercahaya. Rasulullah SAW akan mengenalinya nanti pada hari kiamat karena bekas wudhu.

“Umatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya karena bekas wudhu.”

Muhammad Kamil Abd Al-Shomad, yang mengutip sumber dan Al-I’jaz Al-Ilmiy fi Al-Islam wa Al-Sunnah AlNabawiyah, menjelaskan bahwa manfaat dari semua hal yang diperintahkan dalam wudhu sangatlah besar bagi tubuh manusia. Mulai dari membasuh tangan dan menyela-nyela jari, berkumur-kumur, memasukan air ke dalam lubang hidung, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap kepala, membasuh telinga, sampai membasuh kaki hingga mata kaki.

Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)dalam bukunya Lentera Hidup menuliskan mengenai keutamaan wudhu. “Sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari semalam setiap Muslim diperintahkan untuk berwudhu dan mengerjakan shalat. Walaupun wudhu belum lepas (batal), disunnahkan pula memperbaruinya.

Oleh ahli tasawuf, dijelaskan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka yang artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya berbuat dosa ketika melihat, berkata, dan makan. Mencuci tangan dengan air dalam hati dirasa seakan-akan membasuh tangan yang telanjur berbuat salah. Membasuh kaki dan lain-lain demikian pula. Mereka memperbuat hikmat-hikmat itu walaupun dalam hadits dan dalil tidak ditemukan.

Tujuannya yaitu agar manusia jangan membersihkan lahirnya saja, sementana batinnya masih tetap kotor. Hati yang masih tamak, loba, dan rakus, kendati telah berwudhu, maka wudhunya lima kali sehari semalam itu berarti tidak berbekas dan tidak diterima oleh Allah SWT, dan shalatnya pun tidak akan mampu menjauhkan dirinya dan perbuatan fakhsya’ (keji) dan mungkar (dibenci).”

Mencegah penyakit jika kita mencermati dan mempelajari sejarah hidup Rasulullah SAW, seperti yang diungkapkan Muhammad Husein Haykal di dalam bukunya Hayatu Muhammad, sepanjang hidupnya Rasulullah SAW tidak pernah menderita penyakit.

Hal ini menunjukan bahwa wudhu dengan cara yang henar niscaya bisa mencegah berbagai macam penyakit.

Menurut sejumlah penelitian, berwudhu itu bisa menghilangkan berbagai macam penyakit. Contohnya, penyakit kanker, flu, pilek, asam urat, rematik, sakit kepala, telinga, pegal, linu, mata, sakit gigi, dan sebagainya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Salim mengenai manfaat wudhu untuk kesehatan, terungkap bahwa berwudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah seseorang dan segala penyakit.

Dalam penelitiannya itu, Muhammad Salim menganalisis masalah kesehatan hidung dari orang-orang yang tidak berwudhu dan yang berwudhu secara teratur selama lima kali dalam sehari untuk mendirikan shalat.

Salim mengambil zat dalam hidung pada selaput lendir dan mengamati beberapa jenis kumannya. Pekerjaan ini ia lakukan selama berbulan-bulan.

Berdasarkan dan analisisnya, lubang hidung orang orang yang tidak berwudhu memudar dan berminyak, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, serta permukaannya tampak lengket dan berwarna gelap. Adapun orang-orang yang teratur dalam berwudhu, ungkap Salim, permukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak berdebu.

“Sesungguhnya, cara berwudhu yang baik yaitu dimulai dengan membasuh tangan, berkumur-kumur, kemudian mengambil air dan menghirupnya kedalam hidung kemudian dikeluarkannya. Langkah ini sebaiknya dilakukan sebanyak tiga kali secara bergantian,” kata Salim.

Dari penelitiannya ini pula, Muhammad Salim berhasil meraih gelar master dari Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, Kairo, Mesir. Jauh sebelum adanya penelitian ini, Rasul SAW pernah bersabda:

“Sempurnakan wudhu, lakukan istinsyaq (memasukkan air ke hidung), kecuali jika kamu berpuasa.”

Setiap perintah Allah SWT tentu memiliki hikmah kebaikan dibaliknya. Bayangkan bahwa wudhu adalah ritual pengkondisian seluruh aspek hidup, mulai dari psikologis dan fisiologis.

Ahli syaraf atau neurologist pun sudah membuktikan dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki yang berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran.

Pada anggota badan yang terkena perlakuan wudhu terdapat ratusan titik akupunktur yang bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan atau urutan ketika melakukan wudhu.

Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi.

Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon yang bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Titik-titik akupunktur, suatu fenomena yang menarik jika dikorelasikan dengan kayfiyat wudhu yang disyari’atkan 15 abad yang lalu. Setelah dihitung-hitung, ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota wudhu.

Manfaat wudhu menurut ilmu kesehatan:

1. Manfaat Secara Umum

Kulit merupakan suatu organ yang terbesar bagi tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi (pembuangan zat-zat yang tidak berguna dengan melalui pori-pori) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan.

Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban.

Bersuci merupakan salah satu metode yang menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Jika kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman.

Dengan bersuci yang berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, pada selaput lendir, dan lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga).

Seperti kita ketahui kulit adalah tempat berkembangnya banyak kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogen es, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp.

Seorang ahli bedah diwajibkan untuk membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal pada abad ke-20, sebagaimana kita tahu Jepang membutuhkan 100 tahun untuk membiasakan cuci tangan, kampanye-kampanye cuci tangan sedang gencar-gencarnya di media massa, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak pada abad ke-l4 yang lalu.

2. Berniat dan Membasuh Kedua Telapak Tangan

Berniat yaitu rukun wudhu yang pertama. Manfaat niat di sini yaitu memantapkan hati agar semua rukun beserta sunnah-sunnah wudhu bisa dikerjakan secara maksimal dan manfaat dari berwudhu bisa kita rasakan secara keseluruhan.

Ujung kedua telapak tangan merupakan anggota tubuh yang jauh dari pusat peredaran darah yaitu jantung. Sebab itu, membasuh semua ujung-ujung anggota tubuh yang disebutkan tadi ketika berwudhu dan memijatnya dengan baik akan memperkuat peredaran darah sehingga bisa menambah aktivitas dan kebugaran tubuh.

3. Keutamaan Berkumur-kumur


Berkumur-kumur yang berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan yang sering mengendap atau tersangkutdi antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan (dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman.

Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari bisa mencegah dari infeksi gigi dan mulut. 
 
Selain menjaga dan membersihkan sia-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi sesudah makan berkumur bisa menjaga mulut dan tenggorokan agar terhindar dari radang dan bisa menjaga gusi dan luka.

Manfaat dalam berkumur lainnya yang penting sekali yaitu menguatkan sebagian oto-otot pada wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur adalah latihan yang penting yang diakui oleh para pakar dalam bidang olahraga, karena jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot pada wajah dengan baik bisa menjadikan jiwa seseorang menjadi tenang.

Demikian menurut Ahmad Salim Baduweilan dalam buku At-Tadawi bi Ash-Shalah. Berkumur ketika wudhu ditambah dengan menyikat gigi tentu bisa menghilangkan bau mulut yang tidak sedap dan mulut akan menjadi segar meskipun secara tidak tuntas. Karena sebenarnya tidak ada mulut yang tidak bau disebabkan mulut kita tidak pernah bebas dari jasad renik (microorganisme).

Selain itu membersihkan gigi dan gusi secara teratur bisa membantu mencegah pneumonia atau radang paru pada orang-orang yang lanjut usia serta pencegahan dini dari penyakit periodentitis.

Berkumur bisa membersihkan tenggorokan dari bakteri dan mikroba sebelum ia menyebar dan menimbulkan penyakit, serta mencegah 30% dari potensi terkena penyakit flu dan demam. 
 
Di satu sisi, berkumur adalah suatu tindakan dari perlindungan yang berperan untuk membantu memperbaiki kesehatan secara umum dan bisa menekan pengeluaran ekonomi.

Sebuah studi baru menegaskan bahwa bilasan ke mulut dengan air bisa melindungi mulut dari penyakit gusi dan peradangan, gigi yang berlubang, memperkuat otot otot mulut, wajah dan melindunginya dari infeksi saluran pernafasan.

Adapun ketika mencuci hidung dan menghirup air ke dalamnya mampu menyelamatkannya dari bakteri yang terdapat di dalamnya.

Bahkan orang-orang yang memelihara wudhu dengan baik, akan mampu melindungi hidungnya sehingga bebas dari bakteri. Dan ini akan melindungi hidung dari berbagai penyakit dan mencegah bakteri yang bergerak ke sistem pernafasan.

4. Istinsyaq

Istinsyaq yang berarti menghirup air dengan lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan kuman.

Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan. Dengan istinsyaq kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bisa dicegah.

Penelitian ilmu modern yang dilakukan oleh tim kedokteran Universitas Aleksandria membuktikan bahwa kebanyakan orang yang berwudhu secara kontinyu, maka hidung mereka bersih dan bebas dari debu, bakteri dan mikroba.

Tidak diragukan lagi bahwa lubang hidung adalah tempat yang rentan untuk dihinggapi oleh mikroba dan virus, tetapi dengan membasuh hidung secara kontinyu dengan melakukan istinsyaq, maka lubang hidung akan menjadi bersih dan terbebas dari radang dan bakteri, dan ini mencerminkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Proses ini bisa menjaga manusia akan bahaya pemindahan mikroba dari hidung ke anggota tubuh yang lain.

Hidung merupakan tempat yang banyak mengandung kotoran, karena setiap bernafas, semua kotoran yang terhirup disaring oleh hidung. Maka, dengan menghirup (istinsyaq) dan mengeluarkan air hidung (istinsar), semua kotoran dan kuman penyakit yang ada bisa dicegah masuk ke dalam tubuh serta dapat mempermudah proses pernafasan.

Selain itu, dengan sering melakukan istinsyaq dan istinsar, kita bisa terhindar dan flu, dan kalaupun terserang, pasti akan segera sembuh, karena kuman-kuman atau virus yang ada akan segera hilang dari lubang hidung.

Selain itu istinsyaq dapat untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara yang kotor dan kuman.

Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan yang pertama dalam pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bisa dicegah.

Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tidak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita.

Hasil penelitian yang dilakukan salah satu komite kongres antar negara-negara Islam di Kairo mengatakan bahwa membersihkan hidung sebanyak 5 kali dalam setiap wudhu bisa menjaga kenyamanan rongga-rongga itu dari penyakit infeksi peradangan, sehingga organ-organ tubuh dapat terlindungi dari serangan kuman yang bersarang di dalam rongga hidung.

5. Membasuh Wajah

Membasuh wajah memiliki manfaat yang sangat besar dalam menghilangkan debu dan mikroba, lebih dari membasuh hidung. 
 
Membasuh wajah bisa menghilangkan keringat dan permukaan kulit dan membersihkan kulit dari lemak yang dipartisi oleh kelenjar kulit, dan ini biasanya akan menjadi tempat yang ideal untuk berkembang biaknya bakteri.

Ketika membasuh wajah akan membuat wajah tampak segar dan penuh vitalitas dan melindunginya dari kuman dan debu.

Berbagai studi lainnya menegaskan bahwa mencuci muka bisa membersihkan mata dan debu dari kuman. Dan melindunginya dari berbagai infeksi.

Dengan mencuci wajah akan menghapus sisa-sisa keringat yang terdapat di permukaan kulit dan membuka pori-pori kulit sehingga bisa bernapas dengan baik.

Ditambah lagi bisa menghapus lemak dan minyak yang terdapat pada kulit wajah oleh adanya sekresi kulit. Dan ini tercermin secara positif pada kondisi tubuh yang sehat.

Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tidak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita.

6. Membasuh Tangan

Walaupun hanya sederhana, mencuci tangan sampai siku pada saat berwudhu sangat berguna bagi kesehatan diri yaitu menghilangkan kotoran pada tangan bisa memperlambat penyebaran demam, mengurangi kemungkinan pada tubuh yang terkena penyakit diare, serta penyakit infeksi lain.

Manfaat lain dari membasuh tangan sampai siku ketika berwudhu yaitu untuk menghilangkan keringat dari permukaan kulit dan membersihkan kulit dari lemak yang dipartisi oleh kelenjar kulit yang biasanya merupakan tempat yang ideal untuk berkembang biaknya bakteri.

7. Mengusap Sebagian Kepala
Manfaat untuk mengusap sebagian kepala pada saat berwudhu yaitu mampu mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi dan pusing kepala. 
 
Air dingin yang dibasuhkan ke wajah ataupun diusapkan ke kepala akan mempunyai pengaruh yang baik untuk aktivitas dan kebugaran seseorang, dan bisa menghilangkan penyakit kepala serta kelelahan otak (Ahmad bin Salim Beduweilan, 2005). 
 
Ketika membasu kepala, rambut akan menjadi lebih bersih dan terasa segar. Selain itu rambut akan menjadi rapi dan enak dipandang.

8. Mengusap Dua Telinga

Mengusap dua telinga saat berwudhu bisa menghilangkan lapisan yang timbul akibat bertumpuknya debu atau kotoran yang mungkin menutup telinga yang akan merusak telinga bagian dalam. 
 
Jika kotoran tersebut dibiarkan maka akan menyebabkan lemahnya pendengaran dan terganggunya keseimbangan pada tubuh, karena pusat keseimbangan tubuh terdapat di telinga bagian dalam (Ahmad bin Salim Beduweilan, 2005).

9. Membasuh Kedua Telapak Kaki

Para Dokter mengatakan bahwa mencuci kaki dengan cara diusap dengan baik akan melindungi kulit dari infeksi dari kotoran kaki dan berbagai penyakit kulit yang tendapat di tempat itu.

Membasuh kedua telapak dengan memijatnya secara baik dapat membuat perasaan tenang dan nyaman. Telapak kaki merupakan cerminan kebersihan seluruh perangkat tubuh. Orang yang membasuh kaki sampai telapak kaki dengan air ini merupakan rahasia munculnya perasaan tenang dan nyaman dalam hati setiap muslim stelah berwudhu. 
 
Baca juga:
Wudhu dan Titik Biologis

Itulah sedikit informasi yang bisa saya berikan tentang manfaat wudhu untuk kesehatan. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Magomedov, asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology (Kesehatan Umum dan Ekologi) di Daghestan State Medical Academy' dijelaskan bagaimana wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada seluruh tubuh, khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titik aktif biologis. Menurut riset ini, BASes mirip dengan titiktitik refleksologi Cina.

Bedanya, terang Dr. Magomedov, untuk menguasai titik-titik refleksi Cina dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan dengan praktek wudhu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya, refleksologi hanya berfungsi menyembuhkan sedangkan wudhu sangat efektif mencegah masuknya bibit penyakit.

Menurut peneliti yang juga menguasai ilmu refleksologi Cina ini, 61 dari 65 titik refleks Cina adalah bagian tubuh yang dibasuh air wudhu. Lima lainnya terletak antara tumit dan lutut, di mana bagian ini juga, merupakan area wudhu yang tidak diwajibkan.

Sistem metabolisme tubuh manusia terhubung dengan jutaan syaraf yang ujungnya tersebar di sepanjang kulit. Guyuran air wudhu dalam konsep pengobatan modern adalah hidromassage alias pijat dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan.

Membasuh area wajah misalnya, pijatan air akan memberi efek positif pada usus, ginjal, dan sistem saraf maupun reproduksi. Membasuh kaki kiri berefek positif pada kelenjar pituitari, otak yang mengatur fungsi-fungsi kelenjar endokrin (kelenjar yang bertugas mengatur pengeluaran hormon dan mengendalikan pertumbuhan). Di telinga terdapat ratusan titik biologis yang akan menurunkan tekanan darah dan mengurangi sakit.
Wudhu merupakan suatu bentuk ritual yang mengawali ibadah sholat yang akan dilakukan oleh para kaum muslim di seluruh dunia. Wudhu sendiri merupakan salah satu cara menyucikan diri, yang terdapat dalam kitab suci Al-quran. Wudhu dilakukan oleh kaum Muslim dengan menggunakan air suci sebagai media melakukannya. Wudhu sendiri bukan hanya sebagai sarana menyucikan diri namun memiliki manfaat yang lebih luas. Manfaat yang diperoleh tidak hanya dilihat dari segi unsur spiritualitas dan unsur keagamaan saja, namun juga manfaat yang diperoleh secara universal dari ritual wudhu itu sendiri.  
 
Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers: a Sport for the Body and Soul (Olahraga untuk jasmani dan Rohani) menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif mengenyahkan risiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudhu lima kali sehari adalah antisipasi yang lebih dari cukup.

Menurut Salem, membasuh wajah meremajakan sel-sel kulit muka dan membantu mencegah munculnya keriput. Selain kulit, wudhu juga meremajakan selaput lendir yang menjadi gugus depan pertahanan tubuh. Peremajaan menjadi penting karena salah satu tugas utama lendir ibarat membawa contoh benda asing yang masuk kepada dua senjata pamungkas yang sudah dimiliki, manusia secara alami, yaitu limfosit T (sel T) dan limfosit B (sel B).

Keduanya bersiaga di jaringan limfoid dan sistem getah bening dan mampu menghancurkan penyusup yang berniat buruk terhadap tubuh. Bayangkan jika fungsi mereka terganggu. Sebaliknya, wudhu meningkatkan daya kerja mereka. Pintu masuk lain yang tak kalah penting adalah lubang hidung. Dalam wudhu disunatkan menghirup air dari hidung dan dikeluarkan lewat mulut. Cara ini adalah penangkal efektif ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), TBC, dan kanker secara dini. (www.bisnis-syariah.com)
Kalau diperhatikan, anggota badan yang dibasuh ketika berWudhu adalah anggota-anggota badan yang sering terbuka. Anggota badan kita yang terbuka sangat rentan didatangi kuman, selain memang kulit kita dihuni oleh kumankuman yang normal keberadaannya, kuman-kuman yang bersifat simbiotik

mutualisme (keberadaannya membantu kulit misalnya dalam sistem pertahannan tubuh) juga kuman-kuman simbiotik komensalisme (keberadaanya tidak menimbulkan kerugian/penyakit) juga yang patogen potensial (opportunistic) (kuman yang akan menimbulkan penyakit), kuman-kuman ini yang dikenal dengan flora normal kulit.

Menurut ilmu bacteria (mikrobakteriology), 1 cm meter persegi dari kulit kita yang terbuka bisa dihinggapi lebih 5 juta bakteri yang bermacam-macam. Bakteri ini perkembangannya sangat cepat dan salah satu faktor yang paling mempengaruhi perkembangannya adalah keseimbangan asam-basa (pH). PH permukaan kulit sangat berperan dalam memproteksi tubuh dan membatasi perkembangan kuman yang akan menimbulkan penyakit.

Ketika membasuh kulit dengan air, maka keseimbangan pH dan kelembaban itu akan terkoreksi kembali dan diharapkan kembali normal. Kulit kita terdiri atas beberapa lapisan, salah satunya adalah epidermis pada lapisan terluar (yang mengadakan kontak langsung dengan lingkungan luar). Pada lapisan ini terdapat lapisan sel tanduk (stratum corneum) yang selalu mengalami deskuamasi (penggantian dan pembuangan sel-sel kulit mati pada stratum korneum) dan kadang sel-sel kulit yang mati dan mengelupas itu akan menyumbat pori-pori yang juga bermuara pada lapisan epidermis, hal inilah yg dapat menimbulkan

penyakit pada kulit. Ketika berWudhu, maka air akan membantu membuang kotoran-kotoran, sisa-sisa sel kulit mati tadi dan meminimalisir jumlah kuman pada permukaan kulit kita.

Menurut para ahli pada lembaga riset trombosis di London (Inggris), jika seseorang selalu mandi atau membasuh anggota tubuhnya, maka akan memperbaiki dan melancarkan sistem peredaran darah, air yang mengandung elektrolit-elektrolit akan membuat pembuluh-pembuluh darah mengalami vasodilatasi (pelebaran) sehinggga memperlancar peredarannya.

Juga yang lebih penting adalah efek air pada tubuh kita, yaitu meningkatkan produksi sel-sel darah putih (leukosit) yang sangat berperan penting dalam system pertahanan tubuh (immunitas). Bahkan dari bunyi gemericik air dan kesejukannya, saraf-saraf tubuh yang mengalami ketegangan akibat aktifitas sebelumnya akan mengalami relaksasi juga mengembalikan kemampuan kerja otot-otot tubuh kita.

Ketika berwudhu, kita juga dianjurkan berkumur, bersiwak (gosok gigi), membersihkan hidung, dan membersihkan sela-sela jari tangan dan kaki. Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan kepada umatnya :"Alangkah baiknya orang-orang yang mau menyela-nyela? Mereka bertanya: Siapa mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab : Mereka adalah yang mau menyela-nyela dalam wudhu dan dari makanan, dalam wudhu adalah dengan berkumur, menghisap air hidung dan menyela-nyela jari-jemari mereka pada saat berwudhu, sedangkan menyela-nyela gigi adalah membersihkannya dari bekas makanan. Sesungguhnya yang paling menjengkelkan kedua malaikat (pencatat) adalah ketika mereka melihat bekas makanan di sela-sela gigi mereka sedangkan mereka mendirikan Shalat" (H.R. Ahmad dari Abu Ayub).

Kalau kita tahu, mulut dan hidung kita ini merupakan sarang bakteri berbahaya. Bila kita tidak rajin membersihkannya bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.

Bakteri-bakteri tersebut semakin subur oleh bekas-bekas makanan yang ada di sela-sela gigi yang tidak kita bersihkan. Penelitian pernah membuktikan bahwa 90% dari mereka yang menderita kerusakan gigi, adalah karena keteledoran dalam melakukan kebersihan mulut. Penyakit yang ditimbulkan oleh bakteri yang ada di mulut kita tidak hanya mengancam gigi dan gusi, tetapi juga mengancam sistem pencernaan kita, ini karena air liur yang kita telan berasal dari mulut.

Ada beberapa penyakit yang dapat disebabkan kurang diperhatikannya kesehatan gigi dan mulut dan efeknya adalah timbul penyakit pada organ lain, misalnya sinusitis causa kerusakan gigi (geraham atas). Akhirnya, marilah kita senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan badan kita dengan rajin berwudhu dengan air yang suci dan bersih, dan dengan tata cara yang benar. (Dewan Asatidz dalam www.pesantrenvirtual.com)
 Bismillahirrahma nirrahim.....
 
Tujuan diceritakannya kisah-kisah nabi dalam Al-Quran  adalah tulisan yang menarik yang patut kita ketahui, sebagai bekal pengetahuan kita. Tulisan ini saya ambil dari al-shia.org  , tempat mengkaji ilmu-ilmu keislaman.

Secara mendasar, kisah-kisah al-Quran sangat berbeda dengan kisah-kisah lainnya dari berbagai segi dan sisi. Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa titik pembeda paling urgen antara kedua jenis kisah itu adalah tujuan yang hendak digapainya. Pada hakikatnya, tujuan itulah yang menjadi pembeda utama antara kedua jenis kisah itu. Setiap orang yang ingin menceritakan atau menulis sebuah cerita, ia pasti memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapainya.

Sebagian orang sangat meminati seni cerita karena unsur seninya belaka. Dengan kata lain, ia menekuni bidang seni ini supaya bakat seninya bertambah maju dan berkembang pesat. Sebagian yang lain menekuni bidang seni ini dengan tujuan hanya ingin mengisi kekosongan waktunya. Dan kelompok ketiga menelusuri kehidupan seni hanya ingin mengetahui dan menukil biografi dan sejarah generasi yang telah lalu.

Ringkasnya, setiap orang menekuni seni cerita ini atas dasar faktor dan dorongan tertentu, serta ingin menggapai tujuan yang diinginkannya. Hal itu dikarenakan seni cerita memiliki daya tarik khusus yang tidak dimiliki oleh seni-seni lainnya. Al-Quran pun tidak luput dari kaidah di atas. Ia pun memiliki tujuan tertentu dalam kisah-kisah yang dipaparkannya. Yang pasti, tujuannya di balik pemaparan kisah-kisah itu tidak terlepas dari tujuan universalnya. Yaitu, hidayah dan memberikan petunjuk kepada umat manusia, mendidik mereka secara benar dalam setiap sisi kehidupan, mengadakan reformasi sosial secara mendasar, dan—akhirnya—menciptakan individu dan masyarakat yang saleh, berkepribadian Ilahi, dan beriman.

Tujuan Kisah-kisah Al-Quran


Jika kita menelaah kisah-kisah al-Quran dengan seksama, kita akan memahami bahwa dengan perantara kisah-kisah itu Allah ingin menyampaikan poin-poin penting yang dikemas dalam bentuk cerita dan kisah. Di antara tujuan-tujuan itu adalah sebagai berikut ini: 

1. Membuktikan kewahyuan al-Quran dan kebenaran missi Nabi SAWW; semua yang diembannya adalah wahyu yang turun dari Allah demi membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Dengan memperhatikan kecermatan dan kejujuran al-Quran dalam menukil kisah-kisah itu, kewahyuannya akan dapat dibuktikan. Al-Quran sendiri telah mengisyaratkan hal ini ketika ia menukil kisah-kisah para nabi, baik di permulaan maupun di akhir kisah. 

2. Membuktikan kesatuan agama dan akidah seluruh nabi as. Karena mereka semua datang dari Allah, pondasi dakwah mereka adalah satu dan mereka mengajak umat manusia kepada satu tujuan. Dengan mengingatkan kembali tujuan yang satu ini, di samping ingin menegaskan kesatuan akar dakwah seluruh agama dan umat manusia, alQuran juga ingin menekankan bahwa pondasi dakwah para nabi as tidak berbeda antara satu dengan lainnya. 

3. Menjelaskan kesatuan metode dan sarana para nabi as dalam berdakwah, kesatuan sikap mereka dalam menghadapi masyarakat, bagaimana sikap masyarakat dalam menanggapi ajakan mereka, dan kesamaan adat-istiadat yang berlaku di dalam masyarakat ketika mereka mulai berdakwah.
 
4. Menceritakan pertolongan-pertolongan Ilahi terhadap para nabi as dan menekankan realita bahwa peperangan ideologi itu pasti berakhir dengan kemenangan di pihak para penolong Allah. Dengan demikian, para nabi as akan semakin tegar dalam menjalankan missi mereka, dan para pengikut mereka akan lebih bersemangat untuk mengemban missi tersebut. 

5. Membenarkan kabar-kabar gembira dan peringatan-peringatan Ilahi secara nyata dengan memberikan contoh-contoh nyata tentang hal itu. Semua itu adalah suatu implementasi dari rahmat Ilahi bagi orang-orang yang taat dan azab Ilahi bagi para pembangkang. 

6. Menjelaskan rahmat dan nikmat Ilahi yang telah dicurahkan atas para nabi as sebagai hasil kedekatan hubungan mereka dengan Allah. Sebagai contoh, hal ini dapat kita temukan dalam kisah Nabi Sulaiman, Daud, Ibrahim, Isa, Zakaria, dan lain-lain. g. Mengemukakan permusuhan kuno setan terhadap umat manusia di mana ia selalu menanti kesempatan untuk menyesatkannya. Kisah Nabi Adam as adalah sebuah contoh riil untuk hal ini.

Faktor Pengulangan Kisah-kisah Al-Quran

Salah satu pembahasan penting yang mungkin sering kita pertanyakan setiap kali kita menelaah kisah-kisah al-Quran adalah mengapa sebagian kisah al-Quran diulangi dalam surah yang lain? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu kita perhatikan dua poin berikut ini: 

1. Tujuan yang berbeda menuntut pengulangan kisah. Setiap kisah yang disebutkan dalam sebuah surah al-Quran tentunya demi menggapai sebuah tujuan tertentu. Karena terdapat tujuan lain yang berbeda dengan tujuan tersebut, hal itu menuntut supaya kisah itu diulangi lagi di surah lain demi menggapai tujuan yang lain pula. Oleh karena itu, jika satu tujuan telah menjadi faktor untuk sebuah kisah supaya disebutkan pada sebuah surah, faktor lain yang berbeda dapat menjadi faktor tersendiri untuk kisah itu supaya disebutkan lagi di surah yang lain. 

b. Karena dakwah Islam melalui periode yang berjenjang dan berbeda-beda, dan al-Quran juga turun sesuai dengan tuntutan setiap periode dakwah itu, secara logis kisah yang terdapat di dalamnya sesuai dengan tujuan yang ingin digapai dalam setiap periode dakwah itu akan mengalami pengulangan dalam beberapa surah.
Pada fase ini, belajar adalah hal yang penting bagi anak-anak. Inilah saat yang tepat untuk memberikan dorongan belajar kepada mereka, mematangkan kekuatan akal, serta mewujudkan kecintaan hakiki mereka terhadap penguasaan ilmu. 
 
Pada masa ini, anak-anak memiliki potensi yang kuat untuk menghapal apapun yang sampai ke pendengarannya. Karena itu, proses belajar menjadi sangat penting untuk menanamkan berbagai pengetahuan dan membuatnya tetap melekat dalam ingatan anak. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAWW bersabda: Orang yang belajar di waktu kecil itu ibarat melukis di atas batu. 
 
Dalam kesempatan lain, beliau juga bersabda: Memori anak-anak itu seperti tanda terpahat di batu.
 
Demikian pentingnya pendidikan anak-anak sampai-sampai Rasulullah secara khusus berwasiat kepada para orang tua: Perintahlah anakmu untuk mencari ilmu
 
Bahkan, menurut Rasulullah, pengajaran anak-anak adalah salah satu pintu rahmat Allah bagi orang tua mereka. Beliau bersabd: Rahmat Allah semoga tercurah bagi seorang hamba yang menunjukkan kepada anaknya bagaimana cara berbuat baik kepada orang tua; yang mengajarkan kelembutan, pendidikan, dan sopan santun. 
 
Pendidikan adalah hak asasi seorang anak sebagaimana sabda Imam Ali Zainal Abidin a.s: Seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan kasih sayang, pengenalan pada etika dan budaya, dan pengajaran. 
 
Berkaitan dengan hal ini juga, Rasulullah bersabda: Ada tiga hal yang termasuk ke dalam hak-hak anak yang harus ditunaikan orang tuanya, yaitu membaguskan namanya, mengajarinya penulisan, dan menikahkannya jika sudah dewasa. 
 
Dewasa ini, fungsi pengajaran baca tulis sudah dipegang oleh lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah. Tetapi, itu tidaklah berarti bahwa peran orang tua tidak lagi diperlukan. Dalam kondisi seperti ini, harus ada kerja sama di antara orang tua dan sekolah. 
 
Harus juga diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan di sini tentulah tidak sebatas pendidikan baca tulis. Segala hal yang memungkinkan untuk diajarkan kepada anak-anak, harus diajarkan. Jadi, pendidikan di sini meliputi seluruh bidang ilmu seperti kedokteran, humaniora, sastra, sejarah, filsafat, dan lain-lain. Yang juga tidak boleh dilupakan adalah pentingnya aspek pendidikan ruhani dan ibadah. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAWW bersabda tentang pentingnya pengajaran Al-Quran: Orang yang mengajarkan Al-Qur’an itu kelak akan dipanggil dari dua pintu. Dia akan mengenakan dua pakaian yang memancarkan dua cahaya. Dari kedua cahaya itu tampaklah wajah penghuni surga. 
 
Maksud dari pengajaran Al-Qur’an di sini adalah pengajaran yang komprehensif, dimulai dari pengajaran membaca secara benar sesuai dengan kaidah bahasanya. Berikutnya, si anak harus didorong untuk menghapal beberapa ayat dengan memperhatikan tingkat kemampuan akal seorang anak kecil. Setelah itu, mereka juga perlu diajari tafsir beberapa surat yang relevan dengan kebutuhan anak, terutama yang berkaitan dengan aqidah dan akhlak, atau juga hal-hal yang berhubungan dengan hukum-hukum syar’iy (ibadah dan muamalah). 
 
Berikutnya, pada fase inilah si anak harus mulai diperkenalkan pada tata cara beribadah. Yang pertama kali harus diajarkan adalah tata cara wudhu dan shalat. 
 
Imam Muhamad Al-Baqir a.s. berkata: Ketika anak sudah berusia tujuh tahun, katakanlah kepadanya, ” Basuhlah wajah dan tanganmu!” Jika sudah dibasuh, katakanlah, “ Shalatlah!” Kemudian biarkan mereka sampai usia sembilan tahun. Barulah pada saat itu mereka diajari wudhu secara benar.... 
 
Anak-anak juga perlu diajari hadis sebagai langkah preventif terhadap pengaruh ajaran sesat. Imam Shadiq a.s. dalam hal ini berkata: Ajarilah anak-anakmu hadis sebelum mereka terpengaruh faham Murji’ah.

Imam Hasan a.s. menjelaskan tentang hal-hal yang diterimanya sebagai ajaran dari Rasulullah SAWW dengan mengatakan: Kakekku, Rasulullah SAWW mengajariku kata-kata yang kini biasa aku ucapkan tiap-tiap qunut witir “ Allahummahdini fiman hadayta, wa ‘afini fiman ‘afayta, watawallani fiman tawallayta....“ 
 
Orang tua juga harus memperhatikan aspek pengajaran berbagai hal yang berguna bagi kehidupan anak-anak jika sudah dewasa kelak. Riwayat berikut ini menceritakan bagaimana Imam Ali a.s. mengajari anaknya, Imam Hasan a.s. berpidato: (Imam Ali berkata), “ Wahai anakku, bangunlah untuk berpidato biar aku dengar pidatomu!” Imam Hasan berkata, “ Bagaimana mungkin aku berpidato di hadapanmu, wahai ayahku, pada saat aku sedang menatap wajahmu? Aku pasti malu” 
 
Kemudian diriwayatkan bahwa Imam Ali mengum-pulkan sanak-saudaranya supaya mereka bersama-sama mendengarkan pidato Imam Hasan. 
 
Rasulullah juga memberikan dorongan kepada pendidik, orang tua, dan anak dalam kegiatan belajar-mengajar melalui sabdanya berikut ini.: Jika seorang guru mengajarkan muridnya lafaz bismillah, Allah akan menetapkan ketentuan terbebas dari api neraka baginya, bagi si anak itu, serta bagi orang tuanya.  
 
Imam Ali a.s. pernah mendorong orang-orang agar mereka mengajari anak-anak tentang syair-syair Abu Thalib. Dirawayatkan bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. berkata: Dulu, Imam Ali a.s. sangat tertarik dengan puisi Abu Thalib serta susunannya. Beliau berkata, “ Pelajarilah dan ajarkanlah buat anak-anakmu. Sesungguhnya beliau berada pada agama Allah dan memiliki ilmu yang amat banyak.

Blogger Template -

Copyright 2017 Ayudadeblogger.com All Rights Reserved.